Bacalah teks "Hikayat si Luncai" berikut Alkisah si Luncai berpakaian jubah. Di hadapan raja dikatakannya bahwa ia adalah si Luncai dari akhirat. Ia sesungguhnya telah meninggal dunia karena telah dibenamkan di sungai. Raja, perdana menteri, para pegawai, hulubalang, dan pengawal istana ketakutan, karena mereka semua tahu bahwa Luncai telah dibunuh. Karena itu pula mereka semua menurut apa yang dititah si Luncai. Dikatakannya bahwa ia telah berjumpa dengan arwah nenek moyang raja, perdana menteri, dan pemuka istana. Diajarkannya kepada mereka cara melihat dan berjumpa dengan arwah nenek moyang, yaitu dengan jalan berdiri di tanah lapang, menghadap ke atas dan mata tertutup dengan kain hitam tipis. Semua pemuka itu menurut apa yang dilakukan raja. Berjam-jam lamanya mereka berdiri tiada ada apa-apa yang dapat mereka lihat. Syahdan berkatalah Luncai, bahwa bila tidak melihat apa-apa, apalagi tidak melihat arwah nenek moyang, itu berarti orang yang hidupnya banyak dosa. Mendengar kata-kata Luncai demikian, kemudian ramailah mereka mengatakan bahwa mereka telah dapat melihat nenek moyang mereka, bahkan mereka mencoba untuk tetap berdiri lebih lama, walaupun dalam hati mereka bertanya-tanya benarkah mereka banyak dosa. Berkatalah Luncai kepada raja, bahwa atas permintaan nenek moyang raja, agar dosa mereka terampuni, supaya raja dan rakyatnya mengadakan selamatan di sebuah gua (yang telah diketahui Luncai tempatnya, ketika ia dalam persembunyian). Suatu hari diadakanlah upacara selamatan dan semua pembesar bersama rakyat menuju gua yang dimaksudkan si Luncai. Yang boleh masuk gua hanyalah Luncai bersama raja saja. Disuruhlah raja pergi ke sebuah sudut gua yang dihuni oleh ular-ular berbisa. Analisis dan tuliskan kebahasaan pada teks hikayat berikut! (minimal 2 ciri kebahasaan)​

Iklan
Iklan